Materi 3: How To Assess Higher Order Thinking Skills In Your Chemistry Class
A.
PENGERTIAN DAN KONSEP SOAL HOTS
Soal-soal HOTS merupakan
instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat
tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa
melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen
mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2)
memproses dan
menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang
berbedabeda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah
ide dan informasi secara
kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang
lebih sulit daripada
soal recall.
Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS
mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual,
atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan
menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan,
memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan
(discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana
yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas
kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2),
menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi
(evaluating-C5), dan
mengkreasi (creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah
menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi
(creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan
indikator soal HOTS,
hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai contoh kata
kerja ‘menentukan’ pada
Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan
soal-soal HOTS, kata
kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk
menentukan keputusan
didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan
pada stimulus lalu
peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja
‘menentukan’ bisa
digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun
strategi pemecahan
masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh
proses berpikir apa
yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan
stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS,
stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan
menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi
informasi, sains,
ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Stimulus juga dapat
diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar
satuan pendidikan
seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang
terdapat di daerah
tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi
stimulus yang digunakan
dalam penulisan soal HOTS.
B. Karakteristik
Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai
bentuk penilaian kelas. Untuk menginspirasi guru menyusun soal-soal HOTS di tingkat satuan
pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal HOTS.
1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi
merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan),
menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan
berpikir tingkat tinggi
bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang. Dengan
demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam
stimulus.
Kemampuan berpikir
tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan
berpikir kritis (critical
thinking),
berpikir kreatif (creative
thinking), kemampuan berargumen
(reasoning), dan kemampuan
mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir
tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia
modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik. Kreativitas menyelesaikan
permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak
familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang
digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang
yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang
berbeda dengan cara-cara sebelumnya. ‘Difficulty’ is NOT same as higher order
thinking.
Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak sama dengan kemampuan
berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata
yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki
tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan
tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.Dengan demikian,
soal-soal HOTS
belum
tentu soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi. Kemampuan berpikir
tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh
karena itu agar peserta
didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga
memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis
aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik
untuk membangun
kreativitas dan berpikir kritis.
2. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam
kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat
menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan
masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia
saat ini terkait dengan
lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut
termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan
(interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam
pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
Berikut ini diuraikan
lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman
kehidupan nyata.
b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration),
penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk
menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan
kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk
mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam
situasi atau konteks baru
Ciri-ciri
asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah sebagai
berikut.
a. Peserta didik
mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
b. Tugas-tugas
merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata;
c. Tugas-tugas
yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi
memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban benar.
Berikut
disajikan perbandingan asesmen tradisional dan asesmen kontekstual.
3. Menggunakan bentuk soal beragam
3. Menggunakan bentuk soal beragam
Bentuk-bentuk
soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes (soal-soal HOTS) sebagaimana yang
digunakan dalam PISA, bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih
rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Hal ini penting
diperhatikan oleh guru agar penilaian yang dilakukan dapat menjamin prinsip
objektif.Artinya hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dapat menggambarkan
kemampuan peserta didik sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.Penilaian yang
dilakukan secara objektif, dapat menjamin akuntabilitas penilaian.
Terdapat
beberapa alternatif bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal
HOTS (yang digunakan pada model pengujian PISA), sebagai berikut.
a. Pilihan
ganda
Pada umumnya
soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata.Soal
pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban
(option).Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh
(distractor).Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar.Pengecoh
merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang terkecoh untuk
memilihnya apabila tidak menguasai bahannya/materi pelajarannya dengan
baik.Jawaban yang diharapkan (kunci jawaban), umumnya tidak termuat secara
eksplisit dalam stimulus atau bacaan. Peserta didik diminta untuk menemukan
jawaban soal yang terkait dengan stimulus/bacaan menggunakan konsep-konsep
pengetahuan yang dimiliki serta menggunakan logika/penalaran. Jawaban yang
benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
b. Pilihan
ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)
Soal bentuk
pilihan ganda kompleks bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap
suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan
yang lainnya.Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang
berbentukpilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang bersumber pada
situasi kontekstual.Peserta didik diberikan beberapa pernyataan yang terkait
dengan stilmulus/bacaan, lalu peserta didik diminta memilih benar/salah atau
ya/tidak.Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait antara satu
dengan yang lainnya.Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah agar diacak
secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu.Susunan yang terpola
sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang benar.Apabila peserta
didik menjawab benar pada semua pernyataan yang diberikan diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu pernyataan maka diberi skor 0.
didik menjawab benar pada semua pernyataan yang diberikan diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu pernyataan maka diberi skor 0.
c. Isian
singkat atau melengkapi
Soal isian
singkat atau melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk mengisi
jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka, atau simbol.
Karakteristik soal isian
singkat atau melengkapi adalah sebagai berikut.
singkat atau melengkapi adalah sebagai berikut.
1) Bagian
kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam ratio butir
soal, dan paling banyak dua bagian supaya tidak membingungkan siswa.
2) Jawaban
yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu berupa kata, frase,
angka, simbol, tempat, atau waktu. Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan
jawaban yang salah diberikan skor 0.
d. Jawaban
singkat atau pendek
Soal dengan
bentuk jawaban singkat atau pendek adalah soal yang jawabannya berupa kata,
kalimat pendek, atau frase terhadap suatu pertanyaan. Karakteristik soal
jawaban singkat adalah sebagai berikut:
1)
Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah;
2)
Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar mendapat jawaban yang singkat;
3) Panjang
kata atau kalimat yang harus dijawab oleh siswa pada semua soal diusahakan
relatif sama;
4) Hindari
penggunaan kata, kalimat, atau frase yang diambil langsung dari buku teks,
sebab akan mendorong siswa untuk sekadar mengingat atau menghafal apa yang
tertulis dibuku. Setiap langkah/kata kunci yang dijawab benar diberikan skor 1,
dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
e. Uraian
Soal bentuk
uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengorganisasikan
gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis.
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis.
Dalam
menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang
lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman
dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa.
Dengan kata lain, ruang lingkup ini menunjukkan kriteria luas atau sempitnya
masalah yang ditanyakan. Di samping itu, ruang lingkup tersebut harus tegas dan
jelas tergambar dalam rumusan soalnya.
Dengan
adanya batasan sebagai ruang lingkup soal, kemungkinan terjadinya
ketidakjelasan soal dapat dihindari. Ruang lingkup tersebut juga akan membantu
mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penskoran.
Untuk
melakukan penskoran, penulis soal dapat menggunakan rubrik atau pedoman
penskoran. Setiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta didik
diberi skor 1, sedangkan yang salah diberi skor 0. Dalam sebuah soal
kemungkinan banyaknya kata kunci atau langkah-langkah penyelesaian soal lebih
dari satu.Sehingga skor untuk sebuah soal bentuk uraian dapat dilakukan dengan
menjumlahkan skor tiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta
didik.
Untuk
penilaian yang dilakukan oleh sekolah seperti Ujian Sekolah (US) bentuk soal
HOTS yang disarankan cukup 2 saja, yaitu bentuk pilihan ganda dan
uraian.Pemilihan bentuk soal itu disebabkan jumlah peserta US umumnya cukup
banyak, sedangkan penskoran harus secepatnya dilakukan dan diumumkan
hasilnya.Sehingga bentuk soal yang paling memungkinkan adalah soal bentuk
pilihan ganda dan uraian.Sedangkan untuk penilaian harian, dapat disesuaikan
dengan karakteristik KD dan kreativitas guru mata pelajaran.
Pemilihan
bentuk soal hendaknya dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment
of learning, assessment for learning, dan assessment as learning.
Masing-masing
guru mata pelajaran hendaknya kreatif mengembangkan soal-soal HOTS sesuai
dengan KI-KD yang memungkinkan dalam mata pelajaran yang diampunya.Wawasan guru
terhadap isu-isu global, keterampilan memilih stimulus soal, serta kemampuan
memilih kompetensi yang diuji, merupakan aspek-aspek penting yang harus
diperhatikan oleh guru, agar dapat menghasilkan butir-butir soal yang bermutu.
C. Level
Kognitif
Anderson
& Krathwohl (2001) mengklasifikasikandimensi prosesberpikir sebagai
berikut.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, terdapat beberapa kata kerja operasional (KKO) yang sama namun berada pada ranah yang berbeda. Perbedaan penafsiran ini sering muncul ketika guru menentukan ranah KKO yang akan digunakan dalam penulisan indikator soal. Untuk meminimalkan permasalahan tersebut, Puspendik (2015) mengklasifikasikannya menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran 2015/2016. Pengelompokan level kognitif tersebut yaitu: 1) pengetahuan dan pemahaman (level 1), 2) aplikasi (level 2), dan 3) penalaran (level 3).
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, terdapat beberapa kata kerja operasional (KKO) yang sama namun berada pada ranah yang berbeda. Perbedaan penafsiran ini sering muncul ketika guru menentukan ranah KKO yang akan digunakan dalam penulisan indikator soal. Untuk meminimalkan permasalahan tersebut, Puspendik (2015) mengklasifikasikannya menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran 2015/2016. Pengelompokan level kognitif tersebut yaitu: 1) pengetahuan dan pemahaman (level 1), 2) aplikasi (level 2), dan 3) penalaran (level 3).
CONTOH SOAL PADA
TIAP LEVEL KOGNITIF MATA PELAJARAN KIMIA:
1. Pengetahuan dan Pemahaman (Level 1)
Level
kognitif pengetahuan dan pemahaman mencakup dimensi proses berpikir mengetahui
(C1) dan memahami (C2). Ciri-ciri soal pada level 1 adalah mengukur pengetahuan
faktual, konsep, dan prosedural.Bisa jadi soal-soal pada level 1 merupakan soal
kategori sukar, karena untuk menjawab soal tersebut peserta didik harus dapat
mengingat beberapa rumus atau peristiwa, menghafal definisi, atau menyebutkan
langkah-langkah (prosedur) melakukan sesuatu. Namun soal-soal pada level 1
bukanlah merupakan soal-soal HOTS. Contoh KKO yang sering digunakan adalah:
menyebutkan, menjelaskan, membedakan, menghitung, mendaftar, menyatakan, dan
lain-lain.
1. Simbol unsur perak,
tembaga, dan emas secara berturut-turut adalah.....
a. Ag,
Cu, dan Au
b. Fe,
Cu, dan Au
c. Sn,
Ag, dan C
d. Pd,
Ag, dan Cu
2. Jumlah atom N yang terdapat
pada molekul (NH4)2SO4 sebanyak.....
a. 1
b. 2
c. 4
d. 6
2.
Aplikasi (Level 2)
Soal-soal
pada level kognitif aplikasi membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi daripada
level pengetahuan dan pemahaman. Level kognitif aplikasi mencakup dimensi
proses berpikir menerapkan atau mengaplikasikan (C3). Ciri-ciri soal pada level
2 adalah mengukur kemampuan: a) menggunakan pengetahuan faktual, konseptual,
dan prosedural tertentu pada konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel
lainnya; atau b) menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural
tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual (situasi lain). Bisa jadi
soal-soal pada level 2 merupakan soal kategori sedang atau sukar, karena untuk
menjawab soal tersebut peserta didik harus dapat mengingat beberapa rumus atau
peristiwa, menghafal definisi/konsep, atau menyebutkan langkah-langkah
(prosedur) melakukan sesuatu.
Jika
diketahui massa atom relatif Na=23, S=32, H=1, dan O=16 maka massa molekul
relatif Na2S4.5H2O adalah.....
a. 19
b. 142
c. 232
d. 264
Penjelasan:
Soal di atas termasuk level 2 karena untuk menjawab soal tersebut, peserta didik harus mampu mengingat
Soal di atas termasuk level 2 karena untuk menjawab soal tersebut, peserta didik harus mampu mengingat
3. Penalaran (Level 3)
Level
penalaran merupakan level kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), karena
untuk menjawab soal-soal pada level 3 peserta didik harus mampu mengingat,
memahami, dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural serta
memiliki logika dan penalaran yang tinggi untuk memecahkan masalah-masalah
kontekstual (situasi nyata yang tidak rutin). Level penalaran mencakup dimensi
proses berpikir menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6). Pada
dimensi proses berpikir menganalisis (C4)menuntut kemampuan peserta didik untuk
menspesifikasi aspek-aspek/elemen, menguraikan, mengorganisir, membandingkan,
dan menemukan makna tersirat. Pada dimensi proses berpikir mengevaluasi (C5)
menuntut kemampuan peserta didik untuk menyusun hipotesis, mengkritik,
memprediksi, menilai, menguji, membenarkan atau menyalahkan.
Sedangkan
pada dimensi proses berpikir mengkreasi (C6) menuntut kemampuan peserta didik
untuk merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan,
memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah. Soal-soal
pada level penalaran tidak selalu merupakan soal-soal sulit.
Ciri-ciri
soal pada level 3 adalah menuntut kemampuan menggunakan penalaran dan logika
untuk mengambil keputusan (evaluasi), memprediksi &merefleksi, serta
kemampuan menyusun strategi baru untuk memecahkan masalah kontesktual yang
tidak rutin. Kemampuan menginterpretasi, mencari hubungan antar konsep, dan
kemampuan mentransfer konsep satu ke konsep lain, merupakan kemampuan yang
sangat penting untuk menyelesaiakan soal-soal level 3 (penalaran). Kata kerja
operasional (KKO) yang sering digunakan antara lain: menguraikan,
mengorganisir, membandingkan, menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi,
menilai, menguji, menyimpulkan, merancang, membangun, merencanakan,
memproduksi, menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah,
dan menggubah.
KARTU SOAL (PILIHAN GANDA)
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XII / II
Kurikulum : 2013
revisi 2016
Kompetensi Dasar :
Menganalisis kelimpahan, kecenderungan sifat fisika dan kimia, manfaat, dan
proses pembuatan unsur-unsur golongan utama (gas mulia, halogen, alkali, dan
alkali tanah)
Materi : Kimia Unsur
IndikatorSoal : Diberikan
data mengenai kandungan flouride sebagai bahan aktif pasta gigi, peserta didik
dapat menentukan jenis pasta gigi yang baik untuk kesehatan.
Level Kognitif : C4
Soal: Penyebab terjadinya perubahan warna gigi terdiri dari
faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor local tersebut antara lain disebabkan
oleh pasta gigi atau gel khusus yang dioleskan pada gigi, atau cairan untuk
berkumur. Penyebab perubahan warna gigi karena faktor sistemik ialah akibat
asupan fluor yang berlebih pada masa pembentukan email dan kalsifikasi gigi
melalui fluoridasi air minum, tablet fluor, atau obat tetes, yang dikenal
sebagai fluorosis gigi. WHO menetapkan komponen fluoride minimal sehingga dapat
berkhasiat adalah 800 ppm. Sedangkan BPOM menetapkan standar kandungan fluoride
dalam pasta gigi sebesar 800 sampai 1500 ppm, namun untuk pasta gigi anak
rentangnya yaitu 250 sampai 500 ppm. Melalui penelitian yang sederhana, Athar
membandingkan dua merk pasta gigi dengan bahan aktif flouride yang beredar
bebas dipasaran untuk mengetahui pasta gigi yang aman digunakan sehari-hari.
Pasta Gigi
|
Bahan Aktif
|
Mr Senyawa
|
Kadar
|
X
|
Sodium
monoflourophospate
|
144
|
0,50%
|
Y
|
Sodium
flouride
|
42
|
0,30 %
|
Berdasarkan
data tersebut, Athar menarik beberapa kesimpulan :
(1) Pasta
gigi X memiliki kandungan flouride yang dapat memberikan manfaat.
(2) Pasta
gigi X dapat membuat perubahan warna pada gigi.
(3) Pasta
gigi Y aman digunakan sesuai standar BPOM.
(4) Pasta
gigi Y merupakan cocok digunakan sebagai pasta gigi anak-anak.
Diantara
keempat kesimpulan yang dikemukakan oleh Athar, yang benar adalah ....
A. (1) dan
(2)
B. (1) dan
(3)
C. (2) dan
(3)
D. (1) dan
(4)
E. (2) dan
(4)
Kunci
Jawaban:
Pasta Gigi X
Kadar sodium monoflourophosphate (Na2FPO3) = 0,50% =
5000 ppm
Kadar F dalam Na2FPO3 = 19/144 x 5.000 ppm = 660 ppm
Berdasarkan
nilai kadar yang didapat, maka sodium monoflourophosphate (Na2FPO3) sesuai
dengan standar WHO dan BPOM, secara langsung tidak akan mengubah warna gigi dan
menyebabkan flourisis gigi, namun tidak sesuai untuk digunakan bahkan sebagai
pasta gigi anak-anak.
Pasta Gigi Y
Kadar sodiumflouride (NaF) = 0,30% =
3.000 ppm
Kadar F dalam NaF = 19/42 x 3.000
ppm = 1.357 ppm
Berdasarkan nilai kadar yang
didapat, maka sodium flouride (NaF) sesuai dengan standar BPOM namun tidak WHO,
secara langsung tidak akan mengubah warna gigi dan menyebabkan flourisis gigi,
namun tidak sesuai untuk digunakan bahkan sebagai pasta gigi anak-anak.
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena:
- Mengukur keterampilan berpikir
tingkat tinggi (C4, C5, atau C6): C4
- Berbasis permasalahan kontekstual:
Ya.
- Menarik (trending topic): Ya.
- Tidak
familiar (tidak rutin): Tidak, pasta gigi ditemukan peserta didik dalam
keseharian.
KARTU SOAL (URAIAN)
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI/1
Kurikulum : Kurikulum
2013
Kompetensi Dasar :
Menganalisis struktur dan sifat senyawa hidrokarbon berdasarkan kekhasan atom
karbon dan golongan senyawanya
Materi : Hidrokarbon
dan minyak bumi
Indikator Soal : Disajikan
wacana tentang dua jenis bensin dan mutunya, peserta didik dapat membandingkan
mutu bensin berdasarkan strukturnya dengan benar.
Level Kognitif : L3
Soal:
Minyak bumi
sebagian besar tersusun atas senyawa hidrokarbon, minyak bumi berasal dari sisa
organisme hewan atatu tumbuhan yang mati jutaan tahun yang lalu. Minyak bumi
hasil pengeboran biasa disebut crude oil (minyak mentah). Bensin adalah salah
satu fraksi minyak bumi yang berfungsi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
Bilangan oktana suatu bensin adalah salah satu karakter yang menunjukkan mutu
bakar bensin tersebut, yang dalam prakteknya menunjukkan ketahanan terhadap
ketukan (knocking). Untuk menentukan nilai oktan, ditetapkan 2 jenis senyawa
sebagai pembanding yaitu isooktana dan n-heptana. Saat ini di pasaran ada
beberapa jenis bensin yang memiliki bilangan oktan berbeda-beda. Bensin A
dibuat dengan mencampurkan 88% isooktana dan 12% n-heptana. Bensin B dibuat
dengan mencampurkan 92% isooktana dan 8% n-heptana.
1.
Bandingkan
mana yang lebih tinggi mutu bensinnya, berikan alasannya!
2.
Manakah yang
lebih banyak menghasilkan knocking pada mesin?
PEDOMAN
PENSKORAN:
Keterangan:
Soal ini
termasuk soal HOTS karena: - Mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi (C4,
C5, atau C6): C4 - Berbasis permasalahan kontekstual: senyawa turunan benzena
dalam kehidupan sehari-hari - Menarik (trending topic): menarik
PERMASALAHAN :
Pada
penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan
dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan
hendaknya bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari
isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan,
pendidikan, dan infrastruktur.
Sebagai
pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?
kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus
(pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !




menanggapi permasalahan bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? sebagaimana yang telah diuraian di atas serta contoh soal yang ditampilkan, bahwa Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
BalasHapusMaksudnya adalah bahwa soal HOTS tidak sekedar menuntut pilihan jawaban (claim) akan tetapi siswa diharapkan mampu memberikan data yang relevan (evidence) dan penjelasan yang logis terkait dengan data yang diberikan (argument). Sedangkan soal LOTS pada umumnya hanya membutuhkan jawaban singkat.
saya setuju dengan pendapat kak nelly dan menambahkan, soal yang berbentuk HOTS ini setidaknya harus berisi soal yang membutuhkan pandamgam yang luas, dimana nanti keterkaitan antar satu subjek dengan subjek lain nya dapat terhubung. sehingga kesimpulan yang didapat adalah apa yang siswa pahami, bukan dari menghafal
HapusSaya setuju dengan pendapat kak Nelly dimana dalam soal HOTS biasanya mengandung bahasan yang bersifat kontekstual dan bersifat C4 ke atas seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi seperti adanya tabel yang berisi dua data dan meminta siswa dalam menganalisis, dan kalau LOTS bersifat C1 yakni mengetahui biasanya proses transfer teori dari yang ada dibuku .
HapusSaya sependapat dengan kk nelly. Bahwa soal yg berbentuk HOTS itu biasanya memerlukan jawaban yang luas. Tidak hanya pada 1 jawaban singkat seperti soal LOTS. Soal HOTS biasanya dekat dngan penerapan kehidupan sehari hari siswa atau peserta didik shingga peserta didik mampu untuk mengola pemikirannya dalam bepikir tingkat tinggi.
BalasHapusUntuk memberikan stimulus guru bisa menjelaskan fenomena yg sedang terjadi atau fenomena unik contoh nya dalam pelajaran kimia materi asam basa. Tentu guru memberikan berupa stimulus yg dkt dgn kehidupan sehari hari. Tidak lngsung pada topik inti. Pelan pelan guru mengarahkan hingga sampai kepda pertanyaan inti.
Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?
BalasHapusMenurut saya dari contoh soal dan pedoman penilaian soal yang sudah syafira buat sudah sangat jelas, bahwa memang cara membedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan dan jawaban dari soalnya beragam atau luas. Sedangkan LOTS tingkatan soalnya masih C1-C3 masi mengandalkan ingatan atau pengetahuan tanpa anilisis dan jawabannya pasti.
Saya sependapat dengan kak melda,
Hapuscara membedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahan yang diberikan berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan dan jawaban dari soalnya beragam (dapat berupa jawaban yg meruntut serta sistematis jawabannya dan lain sebagainya) atau luas.
bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?
Hapusmembedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 biasanya memerlukan jawaban yang luas. Tidak hanya pada 1 jawaban singkat seperti soal LOTS. Soal HOTS biasanya dekat dngan penerapan kehidupan sehari hari siswa atau peserta didik shingga peserta didik mampu untuk mengola pemikirannya dalam bepikir tingkat tinggi.
Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !
BalasHapusbedanya tergantung dari taksonomi yang digunakan untuk kata kerja pada soal, jika itu c1-c3 maka itu LOTS sedangkan c4-c6 maka itu HOTS. stimulus dapat dikembangkan berdasaran konstektual dari materi karena tujuan dari stimulus adalah mengembangan pemahanam peserta didik berdasarkan lingkungan atau kondisi yang mereka kenal
Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis.
BalasHapusDilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
TEKNIK PENULISAN BUTIR HOTS DALAM KIMIA
- Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
- Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
- Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya dengan kimia.
- Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk menjawab soal-soal HOTS.
- Berbagai macam data kimia yang disediakan seharusnya memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga dapat diolah lebih lanjut.
- Menulis contoh soal HOTS tentang kimia.
saya akan menjawab pertanyaan fira, bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ?
BalasHapusmenurut saya stimulus yang dapat digunakan yakni fenomena yang trjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya guru mengangkat fenomena nasi yang disimpan dikulkas akan lebih lama basi dibandingkan nasi yang diletakkan pada suhu ruang, nah nanti dikaitkan dengan materi laju reaksi misalnya demikian.
nah untuk memberikan stimulus ini guru harus kreatif dalam membuat analogi, mengangkat fenomena yang terjaid dikehidupan untuk dikaitkan dengan materi kimia yang kita pelajari.
saya akan menjawab pertanyaan dari syafira :
BalasHapusbagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?
Menurut pendapat saya soal LOTS pada umumnya hanya membutuhkan jawaban singkat. LOTS tingkatan soalnya masih C1-C3 masih mengandalkan ingatan atau pengetahuan sedangkan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan menganalisis suatu permasalahan yang lebih tinggi.
pada dasarnya penyusunan soal HOTS berbasis pada tingkat taksonomi yang digunakan. Soal HOTS biasanya pada tingkatan C4-C6. sedangkahn soal LOTS pada kisaran C1-C3. membuat stimulus yang dari berbagai lini kehidupan dan isu terhangat saat ini saya rasa mampu meningkatkan ketertarikan siswa.
BalasHapusSebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !
BalasHapussalah satunya dengan cara melihat tingkatan soal menggunakan taksanomi bloom yang mana C1-C3 merupakan LOST dan C4-C6 HOTS.