Materi 3: How To Assess Higher Order Thinking Skills In Your Chemistry Class



A.      PENGERTIAN DAN KONSEP SOAL HOTS
Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbedabeda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.
Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.
Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.

B. Karakteristik
Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk penilaian kelas. Untuk menginspirasi guru menyusun soal-soal HOTS di tingkat satuan pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal HOTS.

1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang. Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik. Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya. ‘Difficulty’ is NOT same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak sama dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.Dengan demikian, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.
2. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata. Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru
Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah sebagai berikut.
a.    Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
b.    Tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata;
c.    Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban benar.
Berikut disajikan perbandingan asesmen tradisional dan asesmen kontekstual.

3. Menggunakan bentuk soal beragam
Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam sebuah perangkat tes (soal-soal HOTS) sebagaimana yang digunakan dalam PISA, bertujuan agar dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan menyeluruh tentang kemampuan peserta tes. Hal ini penting diperhatikan oleh guru agar penilaian yang dilakukan dapat menjamin prinsip objektif.Artinya hasil penilaian yang dilakukan oleh guru dapat menggambarkan kemampuan peserta didik sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.Penilaian yang dilakukan secara objektif, dapat menjamin akuntabilitas penilaian.
Terdapat beberapa alternatif bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS (yang digunakan pada model pengujian PISA), sebagai berikut.
a. Pilihan ganda
Pada umumnya soal-soal HOTS menggunakan stimulus yang bersumber pada situasi nyata.Soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option).Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).Kunci jawaban ialah jawaban yang benar atau paling benar.Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahannya/materi pelajarannya dengan baik.Jawaban yang diharapkan (kunci jawaban), umumnya tidak termuat secara eksplisit dalam stimulus atau bacaan. Peserta didik diminta untuk menemukan jawaban soal yang terkait dengan stimulus/bacaan menggunakan konsep-konsep pengetahuan yang dimiliki serta menggunakan logika/penalaran. Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
b. Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak)
Soal bentuk pilihan ganda kompleks bertujuan untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah secara komprehensif yang terkait antara pernyataan satu dengan yang lainnya.Sebagaimana soal pilihan ganda biasa, soal-soal HOTS yang berbentukpilihan ganda kompleks juga memuat stimulus yang bersumber pada situasi kontekstual.Peserta didik diberikan beberapa pernyataan yang terkait dengan stilmulus/bacaan, lalu peserta didik diminta memilih benar/salah atau ya/tidak.Pernyataan-pernyataan yang diberikan tersebut terkait antara satu dengan yang lainnya.Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah agar diacak secara random, tidak sistematis mengikuti pola tertentu.Susunan yang terpola sistematis dapat memberi petunjuk kepada jawaban yang benar.Apabila peserta
didik menjawab benar pada semua pernyataan yang diberikan diberikan skor 1 atau apabila terdapat kesalahan pada salah satu pernyataan maka diberi skor 0.
c. Isian singkat atau melengkapi
Soal isian singkat atau melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk mengisi jawaban singkat dengan cara mengisi kata, frase, angka, atau simbol. Karakteristik soal isian
singkat atau melengkapi adalah sebagai berikut.
1) Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam ratio butir soal, dan paling banyak dua bagian supaya tidak membingungkan siswa.
2) Jawaban yang dituntut oleh soal harus singkat dan pasti yaitu berupa kata, frase, angka, simbol, tempat, atau waktu. Jawaban yang benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
d. Jawaban singkat atau pendek
Soal dengan bentuk jawaban singkat atau pendek adalah soal yang jawabannya berupa kata, kalimat pendek, atau frase terhadap suatu pertanyaan. Karakteristik soal jawaban singkat adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan kalimat pertanyaan langsung atau kalimat perintah;
2) Pertanyaan atau perintah harus jelas, agar mendapat jawaban yang singkat;
3) Panjang kata atau kalimat yang harus dijawab oleh siswa pada semua soal diusahakan relatif sama;
4) Hindari penggunaan kata, kalimat, atau frase yang diambil langsung dari buku teks, sebab akan mendorong siswa untuk sekadar mengingat atau menghafal apa yang tertulis dibuku. Setiap langkah/kata kunci yang dijawab benar diberikan skor 1, dan jawaban yang salah diberikan skor 0.
e. Uraian
Soal bentuk uraian adalah suatu soal yang jawabannya menuntut siswa untuk mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya sendiri dalam bentuk tertulis.
Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan kata lain, ruang lingkup ini menunjukkan kriteria luas atau sempitnya masalah yang ditanyakan. Di samping itu, ruang lingkup tersebut harus tegas dan jelas tergambar dalam rumusan soalnya.
Dengan adanya batasan sebagai ruang lingkup soal, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari. Ruang lingkup tersebut juga akan membantu mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penskoran.
Untuk melakukan penskoran, penulis soal dapat menggunakan rubrik atau pedoman penskoran. Setiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta didik diberi skor 1, sedangkan yang salah diberi skor 0. Dalam sebuah soal kemungkinan banyaknya kata kunci atau langkah-langkah penyelesaian soal lebih dari satu.Sehingga skor untuk sebuah soal bentuk uraian dapat dilakukan dengan menjumlahkan skor tiap langkah atau kata kunci yang dijawab benar oleh peserta didik.
Untuk penilaian yang dilakukan oleh sekolah seperti Ujian Sekolah (US) bentuk soal HOTS yang disarankan cukup 2 saja, yaitu bentuk pilihan ganda dan uraian.Pemilihan bentuk soal itu disebabkan jumlah peserta US umumnya cukup banyak, sedangkan penskoran harus secepatnya dilakukan dan diumumkan hasilnya.Sehingga bentuk soal yang paling memungkinkan adalah soal bentuk pilihan ganda dan uraian.Sedangkan untuk penilaian harian, dapat disesuaikan dengan karakteristik KD dan kreativitas guru mata pelajaran.
Pemilihan bentuk soal hendaknya dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yaitu assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning.
Masing-masing guru mata pelajaran hendaknya kreatif mengembangkan soal-soal HOTS sesuai dengan KI-KD yang memungkinkan dalam mata pelajaran yang diampunya.Wawasan guru terhadap isu-isu global, keterampilan memilih stimulus soal, serta kemampuan memilih kompetensi yang diuji, merupakan aspek-aspek penting yang harus diperhatikan oleh guru, agar dapat menghasilkan butir-butir soal yang bermutu.
C. Level Kognitif
Anderson & Krathwohl (2001) mengklasifikasikandimensi prosesberpikir sebagai berikut.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, terdapat beberapa kata kerja operasional (KKO) yang sama namun berada pada ranah yang berbeda. Perbedaan penafsiran ini sering muncul ketika guru menentukan ranah KKO yang akan digunakan dalam penulisan indikator soal. Untuk meminimalkan permasalahan tersebut, Puspendik (2015) mengklasifikasikannya menjadi 3 level kognitif sebagaimana digunakan dalam kisi-kisi UN sejak tahun pelajaran 2015/2016. Pengelompokan level kognitif tersebut yaitu: 1) pengetahuan dan pemahaman (level 1), 2) aplikasi (level 2), dan 3) penalaran (level 3). 
CONTOH SOAL PADA TIAP LEVEL KOGNITIF MATA PELAJARAN KIMIA:
1. Pengetahuan dan Pemahaman (Level 1)
Level kognitif pengetahuan dan pemahaman mencakup dimensi proses berpikir mengetahui (C1) dan memahami (C2). Ciri-ciri soal pada level 1 adalah mengukur pengetahuan faktual, konsep, dan prosedural.Bisa jadi soal-soal pada level 1 merupakan soal kategori sukar, karena untuk menjawab soal tersebut peserta didik harus dapat mengingat beberapa rumus atau peristiwa, menghafal definisi, atau menyebutkan langkah-langkah (prosedur) melakukan sesuatu. Namun soal-soal pada level 1 bukanlah merupakan soal-soal HOTS. Contoh KKO yang sering digunakan adalah: menyebutkan, menjelaskan, membedakan, menghitung, mendaftar, menyatakan, dan lain-lain.
1. Simbol unsur perak, tembaga, dan emas secara berturut-turut adalah.....
a. Ag, Cu, dan Au
b. Fe, Cu, dan Au
c. Sn, Ag, dan C
d. Pd, Ag, dan Cu
2. Jumlah atom N yang terdapat pada molekul (NH4)2SO4 sebanyak.....
a. 1
b. 2
c. 4
d. 6
2. Aplikasi (Level 2)
Soal-soal pada level kognitif aplikasi membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi daripada level pengetahuan dan pemahaman. Level kognitif aplikasi mencakup dimensi proses berpikir menerapkan atau mengaplikasikan (C3). Ciri-ciri soal pada level 2 adalah mengukur kemampuan: a) menggunakan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu pada konsep lain dalam mapel yang sama atau mapel lainnya; atau b) menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural tertentu untuk menyelesaikan masalah kontekstual (situasi lain). Bisa jadi soal-soal pada level 2 merupakan soal kategori sedang atau sukar, karena untuk menjawab soal tersebut peserta didik harus dapat mengingat beberapa rumus atau peristiwa, menghafal definisi/konsep, atau menyebutkan langkah-langkah (prosedur) melakukan sesuatu.
Jika diketahui massa atom relatif Na=23, S=32, H=1, dan O=16 maka massa molekul relatif Na2S4.5H2O adalah.....
a. 19
b. 142
c. 232
d. 264
Penjelasan:
Soal di atas termasuk level 2 karena untuk menjawab soal tersebut, peserta didik harus mampu mengingat

3. Penalaran (Level 3)

Level penalaran merupakan level kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), karena untuk menjawab soal-soal pada level 3 peserta didik harus mampu mengingat, memahami, dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural serta memiliki logika dan penalaran yang tinggi untuk memecahkan masalah-masalah kontekstual (situasi nyata yang tidak rutin). Level penalaran mencakup dimensi proses berpikir menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6). Pada dimensi proses berpikir menganalisis (C4)menuntut kemampuan peserta didik untuk menspesifikasi aspek-aspek/elemen, menguraikan, mengorganisir, membandingkan, dan menemukan makna tersirat. Pada dimensi proses berpikir mengevaluasi (C5) menuntut kemampuan peserta didik untuk menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan atau menyalahkan.
Sedangkan pada dimensi proses berpikir mengkreasi (C6) menuntut kemampuan peserta didik untuk merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah. Soal-soal pada level penalaran tidak selalu merupakan soal-soal sulit.
Ciri-ciri soal pada level 3 adalah menuntut kemampuan menggunakan penalaran dan logika untuk mengambil keputusan (evaluasi), memprediksi &merefleksi, serta kemampuan menyusun strategi baru untuk memecahkan masalah kontesktual yang tidak rutin. Kemampuan menginterpretasi, mencari hubungan antar konsep, dan kemampuan mentransfer konsep satu ke konsep lain, merupakan kemampuan yang sangat penting untuk menyelesaiakan soal-soal level 3 (penalaran). Kata kerja operasional (KKO) yang sering digunakan antara lain: menguraikan, mengorganisir, membandingkan, menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, menyimpulkan, merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan menggubah.

KARTU SOAL (PILIHAN GANDA)
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XII / II
Kurikulum : 2013 revisi 2016
Kompetensi Dasar : Menganalisis kelimpahan, kecenderungan sifat fisika dan kimia, manfaat, dan proses pembuatan unsur-unsur golongan utama (gas mulia, halogen, alkali, dan alkali tanah)
Materi : Kimia Unsur
IndikatorSoal : Diberikan data mengenai kandungan flouride sebagai bahan aktif pasta gigi, peserta didik dapat menentukan jenis pasta gigi yang baik untuk kesehatan.
Level Kognitif : C4
Soal: Penyebab terjadinya perubahan warna gigi terdiri dari faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor local tersebut antara lain disebabkan oleh pasta gigi atau gel khusus yang dioleskan pada gigi, atau cairan untuk berkumur. Penyebab perubahan warna gigi karena faktor sistemik ialah akibat asupan fluor yang berlebih pada masa pembentukan email dan kalsifikasi gigi melalui fluoridasi air minum, tablet fluor, atau obat tetes, yang dikenal sebagai fluorosis gigi. WHO menetapkan komponen fluoride minimal sehingga dapat berkhasiat adalah 800 ppm. Sedangkan BPOM menetapkan standar kandungan fluoride dalam pasta gigi sebesar 800 sampai 1500 ppm, namun untuk pasta gigi anak rentangnya yaitu 250 sampai 500 ppm. Melalui penelitian yang sederhana, Athar membandingkan dua merk pasta gigi dengan bahan aktif flouride yang beredar bebas dipasaran untuk mengetahui pasta gigi yang aman digunakan sehari-hari.


Pasta Gigi
Bahan Aktif
Mr Senyawa
Kadar
X
Sodium monoflourophospate
144
0,50%
Y
Sodium flouride
42
0,30 %

Berdasarkan data tersebut, Athar menarik beberapa kesimpulan :
(1) Pasta gigi X memiliki kandungan flouride yang dapat memberikan manfaat.
(2) Pasta gigi X dapat membuat perubahan warna pada gigi.
(3) Pasta gigi Y aman digunakan sesuai standar BPOM.
(4) Pasta gigi Y merupakan cocok digunakan sebagai pasta gigi anak-anak.
Diantara keempat kesimpulan yang dikemukakan oleh Athar, yang benar adalah ....
A. (1) dan (2)
B. (1) dan (3)
C. (2) dan (3)
D. (1) dan (4)
E. (2) dan (4)

Kunci Jawaban:
Pasta Gigi X
Kadar sodium monoflourophosphate (Na2FPO3) = 0,50% = 5000 ppm
Kadar F dalam Na2FPO3 = 19/144 x 5.000 ppm = 660 ppm
Berdasarkan nilai kadar yang didapat, maka sodium monoflourophosphate (Na2FPO3) sesuai dengan standar WHO dan BPOM, secara langsung tidak akan mengubah warna gigi dan menyebabkan flourisis gigi, namun tidak sesuai untuk digunakan bahkan sebagai pasta gigi anak-anak.
Pasta Gigi Y
Kadar sodiumflouride (NaF) = 0,30% = 3.000 ppm
Kadar F dalam NaF = 19/42 x 3.000 ppm = 1.357 ppm
Berdasarkan nilai kadar yang didapat, maka sodium flouride (NaF) sesuai dengan standar BPOM namun tidak WHO, secara langsung tidak akan mengubah warna gigi dan menyebabkan flourisis gigi, namun tidak sesuai untuk digunakan bahkan sebagai pasta gigi anak-anak.
Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena:
- Mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi (C4, C5, atau C6): C4
- Berbasis permasalahan kontekstual: Ya.
- Menarik (trending topic): Ya.
- Tidak familiar (tidak rutin): Tidak, pasta gigi ditemukan peserta didik dalam keseharian.



KARTU SOAL (URAIAN)
Mata Pelajaran : Kimia Kelas/Semester : XI/1
Kurikulum : Kurikulum 2013
Kompetensi Dasar : Menganalisis struktur dan sifat senyawa hidrokarbon berdasarkan kekhasan atom karbon dan golongan senyawanya
Materi : Hidrokarbon dan minyak bumi
Indikator Soal : Disajikan wacana tentang dua jenis bensin dan mutunya, peserta didik dapat membandingkan mutu bensin berdasarkan strukturnya dengan benar.
Level Kognitif : L3
Soal:
Minyak bumi sebagian besar tersusun atas senyawa hidrokarbon, minyak bumi berasal dari sisa organisme hewan atatu tumbuhan yang mati jutaan tahun yang lalu. Minyak bumi hasil pengeboran biasa disebut crude oil (minyak mentah). Bensin adalah salah satu fraksi minyak bumi yang berfungsi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Bilangan oktana suatu bensin adalah salah satu karakter yang menunjukkan mutu bakar bensin tersebut, yang dalam prakteknya menunjukkan ketahanan terhadap ketukan (knocking). Untuk menentukan nilai oktan, ditetapkan 2 jenis senyawa sebagai pembanding yaitu isooktana dan n-heptana. Saat ini di pasaran ada beberapa jenis bensin yang memiliki bilangan oktan berbeda-beda. Bensin A dibuat dengan mencampurkan 88% isooktana dan 12% n-heptana. Bensin B dibuat dengan mencampurkan 92% isooktana dan 8% n-heptana.
1.            Bandingkan mana yang lebih tinggi mutu bensinnya, berikan alasannya!
2.            Manakah yang lebih banyak menghasilkan knocking pada mesin?

PEDOMAN PENSKORAN:

Keterangan:
Soal ini termasuk soal HOTS karena: - Mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi (C4, C5, atau C6): C4 - Berbasis permasalahan kontekstual: senyawa turunan benzena dalam kehidupan sehari-hari - Menarik (trending topic): menarik


PERMASALAHAN :
Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !

Komentar

  1. menanggapi permasalahan bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? sebagaimana yang telah diuraian di atas serta contoh soal yang ditampilkan, bahwa Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
    Maksudnya adalah bahwa soal HOTS tidak sekedar menuntut pilihan jawaban (claim) akan tetapi siswa diharapkan mampu memberikan data yang relevan (evidence) dan penjelasan yang logis terkait dengan data yang diberikan (argument). Sedangkan soal LOTS pada umumnya hanya membutuhkan jawaban singkat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat kak nelly dan menambahkan, soal yang berbentuk HOTS ini setidaknya harus berisi soal yang membutuhkan pandamgam yang luas, dimana nanti keterkaitan antar satu subjek dengan subjek lain nya dapat terhubung. sehingga kesimpulan yang didapat adalah apa yang siswa pahami, bukan dari menghafal

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat kak Nelly dimana dalam soal HOTS biasanya mengandung bahasan yang bersifat kontekstual dan bersifat C4 ke atas seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi seperti adanya tabel yang berisi dua data dan meminta siswa dalam menganalisis, dan kalau LOTS bersifat C1 yakni mengetahui biasanya proses transfer teori dari yang ada dibuku .

      Hapus
  2. Saya sependapat dengan kk nelly. Bahwa soal yg berbentuk HOTS itu biasanya memerlukan jawaban yang luas. Tidak hanya pada 1 jawaban singkat seperti soal LOTS. Soal HOTS biasanya dekat dngan penerapan kehidupan sehari hari siswa atau peserta didik shingga peserta didik mampu untuk mengola pemikirannya dalam bepikir tingkat tinggi.
    Untuk memberikan stimulus guru bisa menjelaskan fenomena yg sedang terjadi atau fenomena unik contoh nya dalam pelajaran kimia materi asam basa. Tentu guru memberikan berupa stimulus yg dkt dgn kehidupan sehari hari. Tidak lngsung pada topik inti. Pelan pelan guru mengarahkan hingga sampai kepda pertanyaan inti.

    BalasHapus
  3. Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?
    Menurut saya dari contoh soal dan pedoman penilaian soal yang sudah syafira buat sudah sangat jelas, bahwa memang cara membedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan dan jawaban dari soalnya beragam atau luas. Sedangkan LOTS tingkatan soalnya masih C1-C3 masi mengandalkan ingatan atau pengetahuan tanpa anilisis dan jawabannya pasti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan kak melda,
      cara membedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahan yang diberikan berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan dan jawaban dari soalnya beragam (dapat berupa jawaban yg meruntut serta sistematis jawabannya dan lain sebagainya) atau luas.

      Hapus
    2. bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?

      membedakan soal berbasis HOTS dengan LOTS yaitu pada soal atau permasalahan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 biasanya memerlukan jawaban yang luas. Tidak hanya pada 1 jawaban singkat seperti soal LOTS. Soal HOTS biasanya dekat dngan penerapan kehidupan sehari hari siswa atau peserta didik shingga peserta didik mampu untuk mengola pemikirannya dalam bepikir tingkat tinggi.

      Hapus
  4. Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !
    bedanya tergantung dari taksonomi yang digunakan untuk kata kerja pada soal, jika itu c1-c3 maka itu LOTS sedangkan c4-c6 maka itu HOTS. stimulus dapat dikembangkan berdasaran konstektual dari materi karena tujuan dari stimulus adalah mengembangan pemahanam peserta didik berdasarkan lingkungan atau kondisi yang mereka kenal

    BalasHapus
  5. Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis.

    Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

    TEKNIK PENULISAN BUTIR HOTS DALAM KIMIA
    - Perhatikan cakupan materi kimia yang diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
    - Perhatikan beberapa kompetensi yang terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan karakteristik HOTS kimia.
    - Menggunakan hukum dasar kimia pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada kaitannya dengan kimia.
    - Dianjurkan untuk menyediakan berbagai macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk menjawab soal-soal HOTS.
    - Berbagai macam data kimia yang disediakan seharusnya memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum dasar kimia sehingga dapat diolah lebih lanjut.
    - Menulis contoh soal HOTS tentang kimia.

    BalasHapus
  6. saya akan menjawab pertanyaan fira, bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ?

    menurut saya stimulus yang dapat digunakan yakni fenomena yang trjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya guru mengangkat fenomena nasi yang disimpan dikulkas akan lebih lama basi dibandingkan nasi yang diletakkan pada suhu ruang, nah nanti dikaitkan dengan materi laju reaksi misalnya demikian.
    nah untuk memberikan stimulus ini guru harus kreatif dalam membuat analogi, mengangkat fenomena yang terjaid dikehidupan untuk dikaitkan dengan materi kimia yang kita pelajari.

    BalasHapus
  7. saya akan menjawab pertanyaan dari syafira :

    bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ?

    Menurut pendapat saya soal LOTS pada umumnya hanya membutuhkan jawaban singkat. LOTS tingkatan soalnya masih C1-C3 masih mengandalkan ingatan atau pengetahuan sedangkan HOTS permasalahannya yang berbasis kontekstual dan tingkatan soal yaitu C4-C6 dengan menganalisis suatu permasalahan yang lebih tinggi.

    BalasHapus
  8. pada dasarnya penyusunan soal HOTS berbasis pada tingkat taksonomi yang digunakan. Soal HOTS biasanya pada tingkatan C4-C6. sedangkahn soal LOTS pada kisaran C1-C3. membuat stimulus yang dari berbagai lini kehidupan dan isu terhangat saat ini saya rasa mampu meningkatkan ketertarikan siswa.

    BalasHapus
  9. Sebagai pendidik, bagaimana membedakan bahwa soal itu berbasis HOTS atau bukan (LOTS) ? kemudian bagaimana cara membuat pertanyaan berbasis HOTS menggunakan stimulus (pada mata pelajaran kimia) ? jelaskan !
    salah satunya dengan cara melihat tingkatan soal menggunakan taksanomi bloom yang mana C1-C3 merupakan LOST dan C4-C6 HOTS.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 7: Penyusunan Rubrik Penilaian Kreativitas (berpikir kreatif) dalam Kimia

Materi 5: Penyusunan Rubrik Penilaian Aspek Afektif dan Psikomotor

Materi 6: Menyusun Rubrik Penilaian Argumentasi dalam Kimia