MATERI 1 : DESIGNING AUTHENTIC ASSESSMENT IN CHEMISTRY EDUCATION
Penilaian autentik (authentic assesment) adalah suatu
proses pengumpulan, pelaporan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar
siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti autentik, akurat,
dan konsisten sebagai akuntabilitas publik (Pusat Kurikulum, 2009) Penilaian dalam kurikulum 2013 mengacu pada
Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Penilaian otentik memiliki
relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan
tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian
tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik
dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan
lain-lain. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka
dalam pengaturan yang lebih otentik.
Penilaian otentik merupakan
suatu bentuk tugas yang menghendaki peserta didik untuk menunjukkan kinerja di
dunia nyata secara bermakna, yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan
keterampilan. Penilaian otentik juga menekankan kemampuan peserta didik untuk
mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan
penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan, melainkan kinerja
secara nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai sehingga penilaian otentik
merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari
masukan (input), proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
Penilaian otentik bertujuan
untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan
situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan.
Misalnya, penugasan kepada peserta didik untuk menulis topik-topik tertentu
sebagaimana halnya di kehidupan nyata, dan berpartisipasi konkret dalam diskusi
atau bedah buku, menulis untuk jurnal, surat, atau mengedit tulisan sampai siap
cetak. Jadi, penilaian model ini menekankan pada pengukuran kinerja, doing
something, melakukan sesuatu yang merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan
yang telah dikuasai secara teoretis.
Penilaian otentik lebih
menuntut pembelajar mendemonstrasikan pengetahuan, keterampilan, dan strategi
dengan mengkreasikan jawaban atau produk. Peserta didik tidak sekedar diminta
merespon jawaban seperti dalam tes tradisional, melainkan dituntut untuk mampu
mengkreasikan dan menghasilkan jawaban yang dilatarbelakangi oleh pengetahuan
teoretis.
Penilaian otentik dalam
implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada standar penilaian yang terdiri dari:
a. Penilaian
kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman
sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal
b. Pengetahuan
melalui tes tulis, tes, lisan, dan penugasan.
c. Keterampilan
melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik
mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik,
projek, dan penilaian portofolio.
Adapun
ciri-ciri penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a. Penilaian
harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk.
Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek
kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik.
Penilaian kinerja atau produk dipastikan bahwa kinerja atau produk tersebut
merupakan cerminan dari kompetensi peserta didik secara nyata dan objektif.
b. Penilaian
dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Artinya, dalam melakukan
penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian
terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta
didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik
setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
c. Penilaian
menggunakan berbagai cara dan sumber. Dalam melakukan penilaian terhadap
peserta didik harus menggunakan beberapa teknik penilaian (disesuaikan dengan
tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan
sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
d. Penilaian
bentuk tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam
melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus
secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
Informasiinformasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi peserta didik
dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
e. Tugas-tugas
yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan
peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan
pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
f. Penilaian
harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya
(kuantitas) Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap
pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap pengusaan kompetensi
tertentu secara objektif
Manfaat
yang diperoleh dari pelaksanaan penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan
penilaian otentik memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap
kinerja pembelajar sebagai indikator capaian kompetensi yang dibelajarkan.
Penilaian yang hanya mengukur capaian pengetahuan yang telah dikuasai pembelajar
hanya bersifat tidak langsung. Tetapi, penilaian otentik menuntut pembelajar
untuk berunjuk kerja dalam situasi yang konkret dan sekaligus bermakna yang
secara otomatis juga mencerminkan penguasaan dan keterampilan keilmuannnya.
Unjuk kerja tersebut bersifat langsung, langsung terkait dengan konteks situasi
dunia nyata dan tampilannya juga dapat diamati langsung. Hal itu lebih
mencerminkan tingkat capaian pada bidang yang dipelajari.
b. Penilaian
otentik memberi kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya.
Penilaian haruslah tidak sekadar meminta pembelajar mengulang apa yang telah
dipelajari karena hal demikian hanyalah melatih mereka menghafal dan mengingat
saja yang kurang bermakna. Dengan penilaian otentik pembelajar diminta untuk
mengkonstruksikan apa yang telah diperoleh ketika mereka dihadapkan pada
situasi konkret. Dengan cara ini pembelajar akan menyeleksi dan menyusun
jawaban berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dan analisis situasi yang
dilakukan agar jawabannya relevan dan bermakna.
c. Penilaian
otentik memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan
penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu. Dalam pembelajaran
tradisional, juga model penilaian tradisional, antara kegiatan pengajaran dan
penilaian merupakan sesuatu yang terpisah, atau sengaja dipisahkan. Namun,
tidak demikian halnya dengan model penilaian otentik.
Teknik
dan instrumen penilaian otentik untuk menilai kemajuan belajar siswa yang
meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
a.
Penilaian Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Berdasarkan
Salinan Lampiran Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil
Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, bahwa ada
beberapa cara yang yang dapat digunakan untuk menilai sikap spiritual dan sikap
sosial siswa, yaitu observasi, penilaian diri, dan penilaian antar teman.
Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah lembar observasi atau jurnal.
Hasil observasi dicatat dalam jurnal yang dibuat selama satu semester oleh guru
kimia, guru BK, dan wali kelas Instrumen yang digunakan untuk penilaian diri
berupa lembar penilaian diri yang dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan
tidak bermakna ganda, dengan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik,
dan menggunakan format sederhana yang mudah diisi peserta didik. Instrumen yang
digunakan untuk penilaian antar teman berupa lembar penilaian antar teman
menggunakan daftar cek.
b.
Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Berbagai
teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai karakteristik masing-masing
KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan.
Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat,
benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen tes lisan dapat berupa kuis dan
tanya jawab. Instrumen penugasan dapat berupa pekerjaan rumah dan/ atau proyek
yang dikerjakan secara individu atau klompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c.
Penilaian Kompetensi Keterampilan
Penilaian
keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian
praktik/kinerja, proyek, dan portofolio. Instrumen yang digunakan berupa skala
penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Penilaian unjuk
kerja/kinerja/praktik dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu, seperti: praktikum kimia di laboratorium dan
presentasi. Penilaian proyek (project based assessment) merupakan kegiatan
penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut
periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang
dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data,
pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian,
penilaian proyek dapat mengukur pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan
lain-lain.
Penialain
produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk,
teknologi, dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap
perlu diadakan penilaian yaitu: (1) Tahap persiapan,, meliputi penilaian
kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan,
dan mendesain produk; (2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi penilaian
kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan
teknik; (3) Tahap penilaian produk, meliputi penilaian produk yang dihasilkan
peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan,
fungsi, dan estetika. Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau holistik.
Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan
terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan
(tahap persiapan, pembuatan produk, dan penilaian produk). Cara holistik, yaitu
berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap
penilaian produk. Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta
didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran
tertentu.Melalui penilaian portofolio guru Kimia akan mengetahui perkembangan
atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya peserta didik dalam
menyusun atau membuat laporan praktikum Kimia selama satu semester.Atas dasar
penilaian itu, pendidik dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai
dengan tuntutan pembelajaran Kimia.
CONTOH-CONTOH
DESAIN PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
1.
LEMBAR PENILAIAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
2. LEMBAR
PENILAIAN KETERAMPILAN PRAKTIKUM PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
3. LEMBAR
PENILAIAN PRESENTASI PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN
REKAP NILAI
PERFORMA PRESENTASI PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
CONTOH
RUBRIK PENILAIAN KETERAMPILAN AUTENTIK
PERMASALAHAN:
1. Dalam membuat
penilaian otentik komponen-komponen kurikulum apa saja yang harus
dipertimbangkan pendidik agar penilaian tersebut dapat maksimal?
2. Apakah
dalam setiap proses pembelajaran dalam setiap materi harus dilakukan semua
rangkaian bentuk penilaian otentik? Atau harus disesuaikan dengan pencapaian
materi?








saya akan menjawab pertanyaan fira,Dalam membuat penilaian otentik komponen-komponen kurikulum apa saja yang harus dipertimbangkan pendidik agar penilaian tersebut dapat maksimal?
BalasHapusmenurut saya komponen kurikulum yang harus dipertimbangkan yakni tujuan, serta feedback (titik tolak semua proses belajar). jika tujuan penilaian dengan tujuan yang ingin dicapai kurikulum telah sejalan maka tentu saja hasil dari proses yang telah dilakukan akan meningkat. namun kembali lagi, maksimal atau tidaknya hasil penilaian yang guru didapatkan tergantung bagaimana guru merencanakan dan melaksanakannya, jika direncanakan dengan matang dan sistematis serta dilaksanakan sesuai alur yang direncanakan maka hasilnya akan maksimal dan sebaliknya.
Saya setuju dengan kak rini namun saya ingin menambahkan bahwa komponen kurikulum yg harus di perhatikan mnurut saya adalah semua dari komponen kurikulum yg dipakai oleh guru dalam belajar hingga akhirnya menilai. Karena kurikulum lah kita berpatokan dalam mencapain tujuan pendidikan. Yaitu mulai memperhatikan tujuan isi materi dimana didalamnya ada pencapaian materi lalu mnyusun strategi. Barulah guru bisa melakukan evaluasi atau penilaian. Jdi menurut saya dalam melakukan penilian otentik harus memperhatikan komponen2 tersebut juga. Ka
HapusSaya sependapat dengan saudari rini dan dian,
Hapuskomponen kurikulum yang harus dipertimbangkan yakni tujuan, serta feedback (titik tolak semua proses belajar).
Dimana Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih otentik.
Menjawab permasalahan nomor 2, yang dinamakan penilaian autentik itu dalam pembelajaran Kurikulum 2013 adalah penilaian yang mengukur tiga aspek seperti aspek sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dan setiap penilaian itu bersifat tidak persis antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Jadi setiap proses pembelajaran di setiap materinya saat ini dituntut menilai melalui penilaian autentik. Penilaian autentik dalam bidang sikap terdiri dari penilaian observasi, penilaian jurnal, penilaian dari diri sendiri, penilaian antar peserta didik. Lalu penilaian Keterampilan berdasarkan penilaian tugas proyek, penilaian produk, penilaian portofolio. Untuk penilaian pengetahuan terdiri dari tes tertulis dan tes lisan. Jadi menurut saya, seharusnya penilaian itu harus disesuaikan dengan KI, KD, dan Indikator dari setiap materi tersebut. Untuk suau bab Materi Kimia selalu menerapkan ketiga aspek tersebut. Namun untuk tugasnya disetiap aspek itu disesuaikan dengan KI, KD, dan Indikator. Misal untuk Materi struktur atom dan tabel periodik tidak ada percobaannya jadi dari mana menilai aspek keterampilannya, jadi bisa menilai dari pembuatan tugas membuat tabel periodik. Dan penilaian itu semua telah tertuang dalam silabus kimia jadi kita tinggal mengembangkan penilaian seperti apa yang reliabel dan valid untuk menilainya. Namun beda lagi jika yang ditanyakan adalah penialaian tersebut di setiap pertemuan, jawabannya adalah tergantung indikator materi yang disampaikan pada hari itu apabila hanya indikator aspek pengetahuan dan sikap namun tidak ada keterampilan maka keterampilan bisa dinilai dipertemuan berikutnya yang indikatornya menjabarkan aspek keterampilan. Jadi intinya disesuaikam dengan KI, KD dan Indikator yang diajarkan disetiap pertemuannya.
BalasHapusmenjawab permasalahan kedua, menurut saya semua bentuk penilaian otentik yang ada, tidak harus digunakan pada setiap materi dalam menilai hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dan yang menjadi tolak ukur yang dapat digunakan bahwa kita hanya dapat menggunakan beberapa penilaian saja untuk melihat hasil atau kinerja peserta didik yaitu karakteristik materi tersebut. Guru harus mampu memilih penilaian yang tepat untuk digunakan sesuai dengan karakteristik materinya. Tidak semua materi harus dinilai dengan menggunakan penilaian produk dan projek, hanya beberapa materi saja. begitu juga dengan penilaian lainnya.
BalasHapusSaya sependapat dengan saudari rini,
HapusPenilaian yg otentik adalah proses penilaian dilakukan dengan kesesuaian antara alat ukur yg digunakan dengan yg diukur,
Patokan kita membuat instrumennya ap?
Indikator ketercapaian yg ingin kita capai, dan tentunya dalam pembuatan indikator di seuaikan pada karakteristik materi, siswa dan keadaan sekolah.
Menjawab permasalahan yang pertama, Dalam membuat penilaian otentik komponen-komponen kurikulum apa saja yang harus dipertimbangkan pendidik agar penilaian tersebut dapat maksimal?
BalasHapusMenurut saya yang harus dipertimbangkan adalah sudah jelas komponen evaluasi karena penilaian, baik awal atau pun akhir kita butuh evaluasi, dan untuk melakukan penilaian dibutuhkan komponen kurikulum yaitu materi, karena materi itu beda-beda ada yang konsep dan ada yang praktek, jadi perbedaan penilaian setiap materi maka berbeda pula bentuk penilaiannya.
Menambahkan jawaban melda untuk pertanyaan pertama
HapusPrinsip Penilaian Menurut Kurikulum 2013 yang harus diperhatikan oleh guru pada saat melaksanakan penilaian baik pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK) adalah:
Sahih
Penilaian yang dilakukan haruslah sahih, maksudnya penilaian didasarkan pada data yang memang mencerminkan kemampuan yang ingin diukur.
Objektif
Penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas dan tidak boleh dipengaruhi oleh subjektivitas penilai (guru).
Adil
Penilaian yang adil maksudnya adalah suatu penilaian yang tidak menguntungkan atau merugikan siswa hanya karena mereka (bisa jadi) berkebutuhan khusus serta memiliki perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
Terpadu
Penilaian dikatakan memenuhi prinsip terpadu apabila guru yang merupakan salah satu komponen tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
Terbuka
Penilaian harus memenuhi prinsip keterbukaan di mana kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan yang digunakan dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.
Menyeluruh dan berkesinambungan
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh guru dan mesti mencakup segala aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Dengan demikian akan dapat memantau perkembangan kemampuan siswa.
Sistematis
Penilaian yang dilakukan oleh guru harus terencana dan dilakukan secara bertahap dengan mengikuti langkah-langkah yang baku.
Beracuan kriteria
Penilaian dikatakan beracuan kriteria apabila penilaian yang dilakukan didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
Akuntabel
Penilaian yang akuntabel adalah penilaian yang proses dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
Edukatif
Penilaian disebut memenuhi prinsip edukatif apabila penilaian tersebut dilakukan untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan siswa.
saya akan menjawab pertanyaan pertama
BalasHapusperencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan
pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif
saya mencoba menjawab pertanyaan 2, yaitu tentang apakah dalam setiap proses pembelajaran dalam setiap materi harus dilakukan semua rangkaian bentuk penilaian otentik? Atau harus disesuaikan dengan pencapaian materi?
BalasHapusMenurut saya setiap proses pembelajaran dalam setiap materi ini harus sesuai dengan kurikulum yang digunakan, jika menggunakan k13 seharusnya menggunakan semua rangkaian bentuk penilaian otentik, karena pada k13 bnyak aspek yang harus dinilai dan bukan hanya kognitif saja seperti KTSP.
saya setuju dengan pendapat teman" diatas bahwa dalam membuat penilaian otentik harus ada dan sesuai dengan semua komponen kurikulum
BalasHapusmenurut pendapat saya dalam membuat penilaian otentik, berpijak kepada semua komponen kurikulum. namun aspek tujuan pembelajaran ada baiknya diperhatikan lebih saksama. karena apa yang ingin dievaluasi dan dinilai, haruslah bersesuaian dengan apa tujuan awal yang ingin dicapai. terimakasih.
BalasHapus